Assalamu'alaikum Wr. Wb

Blog ini dibuat hanya sekedar untuk pengisi waktu luang, tidak ada yang terlalu serius dan penting dalam blog sederhana ini. Tulisan-tulisan yang ada hanya merupakan coretan tanpa makna yang muncul dari "ketidak seriusan" saya dalam membuat blog ini.

Blog ini hanya sebagai penyalur "uneg-uneg" saya tanpa bermaksud membuat orang berpikir terlalu serius. Lihat dan dengar berita di media massa, betapa banyak orang yang pada akhirnya bunuh diri karena terlalu serius menghadapi permasalahan hidupnya sehingga stress, dan ketika tidak mendapatkan jalan keluar dari masalah, akhirnya memilih jalan pintas untuk "keluar dari kehidupannya".

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

16 Juni 2009

Alutsistaku..... Sungguh malang nasibmu..!!

Bagi di facebook

(oleh: Hamim Tohari)

Pada bulan-bulan terakhir ini, istilah alutsista TNI menjadi begitu akrab di telinga rakyat Indonesia karena begitu seringnya dibicarakan di media. Sebelumnya - khususnya pada awal-awal reformasi - mungkin tidak banyak orang yang peduli dengan alutsista TNI, bahkan mendengar nama TNI aja seolah-olah alergi. TNI seolah-olah menjadi institusi yang paling bertanggung jawab atas karut marut negeri ini selama beberapa dekade, sehingga terkadang bahkan muncul anggapan emosional bahwa sebaiknya TNI dihapus saja..... dll.

Sebenarnya, kekuatan militer Indonesia sebagai komponen utama pertahanan negara pada dekade awal setelah kemerdekaan pernah disegani oleh negara-negara tetangga. Bahkan kekuatan TNI AU pada tahun 50-an pernah menjadi yang terbesar di kawasan Asia Pasifik. Kehormatan bangsa Indonesia pada masa itu benar-benar terjunjung tinggi dan kedaulatan negara dapat terjaga dengan baik. Ketika situasi politik dan keamanan global maupun kawasan regional Asia Tenggara semakin stabil, seiring semakin kendornya persaingan ideologi dan militer dua blok adidaya, persepsi tentang ancaman perang juga semakin berubah. Muncul pemikiran bahwa Indonesia tidak akan menghadapi ancaman militer dari luar negeri, sehingga pembangunan sektor pertahanan mulai diabaikan. Memang cukup masuk akal, karena situasi politik dan keamanan dalam negeri pun relatif stabil dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga prioritas pembangunan diarahkan untuk perbaikan perekonomian rakyat.

Persepsi publik yang seperti itulah yang kemudian membuat perhatian pemerintah untuk membangun kekuatan dan kemampuan TNI sebagai komponen utama pertahanan negara semakin menurun. TNI relatif hanya mengandalkan alutsista peninggalan jaman revolusi kemerdekaan. Alutsista tua itulah yang kemudian menghiasai kesatrian-kesatrian militer dan tiap hari hanya "di lap-lap" biar mengkilat seolah-olah kondisinya masih baik. Alutsista tua itu juga yang setiap ada acara seremonial "diakal-akali" biar seolah-olah "bisa operasional" dan kemudian dipamer-pamerkan untuk "nakut-nakuti" kawan dan lawan.

Stagnasi pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Secara internal, TNI sendiri pada masa-masa itu juga lebih banyak disibukkan dengan campur tangan pada urusan bernegara (politik praktis). Akhirnya pembangunan kekuatan dan kemampuan profesionalitas TNI seolah-olah terabaikan sampai bergulirnya era reformasi dimana TNI tersudut dan dituntut untuk “kembali ke barak”.

Ketika mulai muncul aksi-aksi provokatif negara lain di wilayah kedaulatan NKRI seperti kasus pelanggaran wilayah oleh pesawat tempur Amerika di sekitar P. Bawean, klaim sepihak Malaysia atas Blok Ambalat, dan kasus-kasus lainnya, sementara TNI tidak mampu mengatasinya dengan alutsista rongsokan, orang mulai berpikir tentang pentingnya pembangunan kekuatan dan kemampuan militer untuk menciptakan daya tangkal pertahanan negara.

Itupun belum mampu membuat para policy makers berpikir realistis untuk memberikan perhatian yang cukup bagi pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI serta modernisasi alutsista. Pembelian alutsista baru bagi TNI AD, AL, dan AU hanya sekedar formalitas saja untuk memberikan kesan seolah-olah mereka memperhatikan TNI. Kuantitas dan kualitas alutsista yang dibeli masih sangat jauh dari harapan untuk memenuhi kebutuhan.

5 tahun terakhir ini, berbagai peristiwa yang disebabkan oleh ketidak siapan operasional alutsista TNI telah mengakibatkan banyak nyawa prajurit-prajurit terbaik melayang sia-sia. Tank Amphibi marinir tenggelam, tank TNI AD masuk jurang, tembakan meriam Armed nyasar ke perkampungan, pesawat dan heli jatuh, dan berbagai peristiwa lainnya menghiasi halaman-halaman media massa. Orang menjadi semakin terbuka matanya untuk melihat realitas yang terjadi terhadap rendahnya kesiapan operasional alutsista TNI.

Sayangnya, isu tentang alutsista ini akhirnya juga dipolitisasi dan dijadikan komoditas politik menjelang pilpres Juli nanti. Ada capres-cawapres yang kemudian mengumbar janji untuk memenuhi alutsista TNI dalam waktu 3 bulan (kalau terpilih). Sebuah omong kosong besar yang tidak masuk akal apabila dihadapkan pada kondisi kemampuan anggaran negara saat ini. Masih banyak sektor lain, khususnya bidang pendidikan, ekonomi, kesejahteraan dan pelayanan publik yang memerlukan prioritas perbaikan. Disamping itu, pengalaman pengadaan alutsista TNI selama ini prosesnya sangat panjang. Bahkan ketika MoU pembelian alutsista sudah ditandatangani pun, barangnya baru bisa diterima sekitar 2 tahun berikutnya. Lha ini kok mau memenuhi alutsista dalam 3 bulan....? Emangnya nggak mikir bagi-bagi jatah kursi menteri dulu? Emangnya nggak nyusun program-program dulu...? Emangnya nggak mikir cari kembalian biaya kampanye...?

Namun demikian, masih ada capres-cawapres yang cukup realistis menyikapi kondisi ini dengan tidak buru-buru mengumbar janji dan memasang target serta tidak mencari-cari kesalahan atau kambing hitam. Siapapun pemimpin negara ini, tidak serta merta dengan sendirinya dapat menentukan alokasi anggaran untuk pertahanan yang ideal. Semuanya harus dibicarakan dengan wakil-wakil rakyat, para anggota dewan yang terhormat, yang sudah terlebih dahulu dipilih oleh rakyat.

Yang justru menyesakkan adalah pernyataan Menhan yang mengatakan bahwa berbagai kecelakaan yang terjadi belakangan ini "tidak terkait dengan tuanya usia alutsista". Mengherankan..... apakah realitas yang terjadi ini belum cukup memberikan bukti bahwa alutsista kita sudah tidak layak pakai lagi karena udah udzur....? Apakah kenyataan ini masih harus terus-menerus ditutup-tutupi sambil menunggu ribuan lagi nyawa prajurit yang melayang dengan sia-sia...?

Ataukah pernyataan itu sebagai sebuah pembenaran untuk mengatakan bahwa kinerja Dephan selama ini sudah maksimal? Atau ada kemungkinan lain juga, karena kita sedang menghadapi konflik dengan negara tetangga berkait sengketa wilayah, pernyataan itu ditujukan untuk menutupi kondisi yang sebenarnya agar negara lain tidak menganggap remeh kekuatan kita. Wallahu 'alam...

Samsir Siregar, ketua BIN, di depan Komisi I DPR juga mengatakan bahwa tidak ada unsur sabotase dalam berbagai kasus kecelakaan pesawat TNI. Pernyataan ini tentu saja dipicu oleh adanya dugaan, entah dari siapa...., bahwa ada kemungkinan sabotase dalam kasus-kasus kecelakaan pesawat TNI.

Saya sebagai orang "bukan intel" kok merasa aneh aja kalau ada yang mengkait-kaitkan kecelakaan demi kecelakaan itu sebagai salah satu akibat dari sabotase. Sabotase dari siapa pak...? Justru yang patut dicurigai kena dampak sabotase ya sikap para anggota dewan yang terhormat itu, yang selama ini tidak memperhatikan pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI. Mungkin ada "pesanan" dari pihak asing agar TNI dilemahkan dari dalam, dengan cara membatasi anggaran pertahanan untuk pembelian alutsista..... bisa saja to....?

Sebagai akhir dari "unek-unek" ini, marilah kita secara obyektif melihat realitas yang terjadi. Alutsista TNI memang sebagian besar sudah sangat tua, sudah mulai pikun sehingga tidak dapat lagi dioperasionalkan secara wajar. Konsekuensinya, banyak prajurit yang akhirnya harus menghadapi resiko besar ketika berhadapan dengan alutsistanya sendiri.

Tenaga, pikiran dan biaya besar yang telah dikeluarkan oleh negara (rakyat) untuk membentuk prajurit-prajurit TNI akhirnya akan terbuang sia-sia manakala mereka menjadi korban dari alutsistanya sendiri. Rakyat tidak memerlukan janji-janji selangit. Yang diperlukan adalah obyektifitas dan kejujuran dalam melihat realitas, kemudian langkah-langkah konkrit untuk perbaikannya.

Jangan lagi permasalahan ini justru dijadikan komoditas politik untuk mencari keuntungan. Jangan lagi rakyat yang sudah semakin pintar dan dewasa ini dibodoh-bodohi dengan pernyataan-pernyataan yang aneh...

ALUTSISTAKU.... SUNGGUH MALANG NASIBMU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar