Assalamu'alaikum Wr. Wb

Blog ini dibuat hanya sekedar untuk pengisi waktu luang, tidak ada yang terlalu serius dan penting dalam blog sederhana ini. Tulisan-tulisan yang ada hanya merupakan coretan tanpa makna yang muncul dari "ketidak seriusan" saya dalam membuat blog ini.

Blog ini hanya sebagai penyalur "uneg-uneg" saya tanpa bermaksud membuat orang berpikir terlalu serius. Lihat dan dengar berita di media massa, betapa banyak orang yang pada akhirnya bunuh diri karena terlalu serius menghadapi permasalahan hidupnya sehingga stress, dan ketika tidak mendapatkan jalan keluar dari masalah, akhirnya memilih jalan pintas untuk "keluar dari kehidupannya".

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

02 November 2009

Pokok-Pokok Pemikiran tentang PERANG SEMESTA

Bagi di facebook


(Oleh: Hamim Tohari)


Sekedar berbagi kepada rekan-rekan yang mungkin belum sempat membaca buku tulisan Wakasad Letjen TNI JS. Prabowo yang berjudul Pokok-Pokok Pemikiran tentang Perang Semesta.

Walaupun hanya berupa “pokok-pokok pemikiran”, tetapi secara keseluruhan dalam buku ini Wakasad mencoba untuk meluruskan pemahaman yang “kurang tepat” selama ini tentang makna dari Perang Semesta. Memang banyak orang yang menganggap bahwa konsep Perang Semesta yang diwacanakan oleh TNI AD, dan mulai di legalisasikan melalui Kursus Strategi Perang Semesta (KSPS) di Seskoad atau Sekolah Strategi Perang Semesta (SSPS) di Unhan, adalah perwujudan kembali Perang Rakyat Semesta (People’s War) seperti yang dilakukan pada era perang kemerdekaan dulu. 



Banyak yang berpikiran bahwa Perang Semesta sama artinya dengan “perang bareng-bareng dengan rakyat”, dan menjadikan rakyat sipil (non-kombatan) menjadi kekuatan bersenjata (kombatan) pada saat perang untuk meraih kemenangan. Kalangan aktifis HAM kemudian mengkuatirkan hal ini akan berdampak pada pelanggaran atas Konvensi Jenewa dan lain-lain.


Wakasad dalam buku ini mengajak para pembaca untuk memahami Perang Semesta dengan terlebih dahulu menyamakan persepsi tentang pengertian perang sebagai sebuah “konflik berskala besar antar (beberapa) Negara atau didalam suatu Negara, yang terkait dengan masalah kedaulatan dan atau wilayah suatu Negara.”(hal. 9) Dengan pengertian ini, maka perang harus dipahami secara luas, baik dari segi wilayah territorial maupun motif dan musuhnya. Perang juga tidak berarti atau tidak harus menggunakan kekuatan bersenjata, melainkan berkait dengan pelibatan semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perang (war) harus dibedakan dengan pertempuran bersenjata (battle). Perang juga tidak berarti harus dilakukan melawan Negara lain (lintas Negara), tetapi dapat juga berupa konflik berskala besar yang terjadi dalam suatu Negara sepanjang itu berkaitan dengan masalah kedaulatan Negara, seperti perang melawan separatisme atau terorisme. Dengan demikian, maka Wakasad juga melihat adanya paradoks dalam pengistilahan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) (hal. 57) karena di dalamnya terdapat operasi untuk mengatasi pemberontakan bersenjata, separatis bersenjata dan terorisme, sementara dalam pengertian yang ditawarkan oleh Wakasad, ketiganya dikategorikan sebagai sebuah Perang.


Dengan terlebih dahulu membahas generasi peperangan yang sampai saat ini telah berada pada generasi ke empat (4GW), maka Wakasad mencoba menempatkan Perang Semesta ini pada lingkup jenis perang generasi keempat (4GW) ini, dimana perang lebih bersifat asimetris dan non linier.(hal 19-30) Perang juga lebih bersifat non-konvensional dengan lebih banyak memanfaatkan elemen-elemen non militer untuk mencapai kemenangan. Contoh-contoh kasus di berbagai belahan dunia yang dibawa oleh Wakasad sebagai ilustrasi dalam buku ini semakin memperjelas pemahaman pembaca tentang pengertian perang secara luas dan Perang Semesta itu sendiri.


Memang sulit untuk dipungkiri ketika kita membicarakan sebuah perang, yang terbayang adalah sebuah konflik berdarah yang diwarnai oleh dentingan senjata tajam yang beradu, letusan senjata api, ledakan bom dan lain-lain. Hal inilah yang juga masih terlihat dalam buku karya Wakasad ini, walaupun dari awal sampai akhir beliau mencoba untuk membawa alam pikiran pembaca tentang lingkup perang yang luas, tidak sekedar sebuah pertempuran bersenjata, namun berbagai contoh yang diberikan masih lebih banyak membicarakan jumlah korban, yang tentu saja sangat berkorelasi dengan penggunaan senjata.


Dalam membuat perbandingan antara Perang Semesta dan Total War, Wakasad menggambarkan bahwa lingkup Perang Semesta jauh lebih besar dari sekedar Total War yang merupakan rangkaian pertempuran bersenjata yang massif dan melibatkan banyak Negara. (hal. 64) Namun dalam ada sesuatu yang sedikit membingungkan dalam tabel perbandingan dimana disebutkan bahwa motif total war adalah politik, kemanusiaan, ekonomi dan perbatasan sedangkan motif perang semesta adalah kemerdekaan, revolusi, lawan insurjensi dan kedaulatan wilayah. (hal. 65) Hal ini agak membingungkan karena motif perang semesta yang diidentifikasi justru terkesan lebih berkaitan dengan penggunaan senjata, sementara motif total war lebih jauh sangkutannya dengan penggunaan kekuatan bersenjata. Ini tidak mendapatkan penjelasan yang memadai dalam buku.


Akhirnya Wakasad menawarkan berbagai langkah yang dapat ditempuh untuk mempersiapkan Perang Semesta ini mulai dari membangun sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial budaya, sistem teknologi dan sistem pertahanan. Kelima sistem tersebut perlu dibangun dan dikelompokkan dalam wujud komponen cadangan dan komponen pendukung. (hal. 82)


Bukan bermaksud untuk mengoreksi, namun barangkali ada satu hal yang tidak dibahas oleh Wakasad tetapi sangat penting untuk juga dibangun, yaitu membangun atau menumbuhkan kebanggaan nasional (national pride). Kalau kita pelajari secara mendalam, rakyat akan secara sukarela mempertahankan kedaulatan negaranya apabila mereka memiliki kebanggaan nasional yang tinggi kepada negaranya. Memang kelima sistem yang ditawarkan oleh Wakasad untuk dibangun merupakan bagian dari jalan untuk membangun kebanggaan nasional. Namun faktor kepemimpinan nasional yang kuat dan berkarakter juga merupakan faktor yang sangat mendukung terbangunnya kebanggaan nasional dalam suatu Negara bangsa.


Mungkin contoh nyata yang dapat dilihat dalam konteks ini adalah rakyat negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia bahkan negara-negara “antagonis” seperti Libya, Iran hingga Venezuela yang miskin di Amerika Selatan.
Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh associated press, terlihat bahwa dalam urusan national pride ini rakyat Amerika Serikat menempati urutan pertama karena rakyat mereka bangga dengan sistem demokrasi, pengaruh politik, ekonomi, ilmu pengetahuan serta militer.


Yang cukup mengejutkan adalah kenyataan terpilihnya salah satu “lawan politik AS” yaitu Venezuela di tempat kedua. Ternyata rakyat Venezuela memiliki kebanggaan terhadap negaranya akibat perkembangan bidang olahraga, seni budayadan kepustakaan, sejarah serta perlakuan adil terhadap semua kelompok masyarakat oleh pemerintahnya. Sebagian besar rakyat Venezuela percaya bahwa Presiden Hugo Chavez telah mampu menciptakan “sense” yang baru bagi masyarakatnya sehingga memunculkan sebuah kebanggaan nasional terhadap negaranya.


Kebanggaan nasional ini tentu saja akan dapat terwujud ketika keseluruhan sistem dalam sebuah negara berjalan dengan baik, termasuk kelima sistem yang ditawarkan oleh Wakasad. Hal itu perlu didukung oleh kepemimpinan nasional yang kuat dan mampu menciptakan good governance sehingga rakyat memiliki kepercayaan (trust) yang tinggi.


Secara umum, buku ini sangat bermanfaat untuk dibaca oleh para perwira TNI AD dan masyarakat luas, agar memiliki kesamaan pemahaman tentang makna Perang Semesta. Kesamaan persepsi terhadap konsep Perang Semesta serta perlunya penyiapan sejak dini antara TNI dan rakyat inilah yang diharapkan juga dapat menumbuhkan kesadaran untuk bahu membahu dalam menjaga kedaulatan NKRI dari setiap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri.



4 komentar:

Anonim mengatakan...

Pendidikan Kursus Strategi Perang Semesta (KSPS)yg ada di TNI AD itu apakah mengundang/ diikuti juga oleh perwira/Pati TNI AL, AU & POLRI?
Kalau hanya siswa dari TNI AD saja gimana komponen lainnya bisa memahami & memasyarakatkannya? apa TNI AD mau perang sendiri ya?
Kita lihat sejarah perang/konflik bersenjata antar negara jaman sekarang/kedepan itu mengandalkan Angkatan Udara & Lautnya dulu utk ofensif maupun bertahan baru Angkatan Daratnya...
Angkatan Daratnya besar & Kuat tanpa AU & AL yg kuat tidak akan punya deterent effect bagi negara kecil kayak Singapura atau Malaysia... contohnya kita sering kalah dlm polurgi sama mereka...
Jamannya Soekarno AURI & AL-nya kuat, mana berani tuh Singapura & Malaysia macam2... malah mau kita ganyang tuh Malaysia... Sekarang..?? Sipadan Ligitan dirampas Malaysia sebentar lagi Ambalat...
Walau doktrin TNI tidak bersifat offensif bukan berarti tidak boleh punya kekuatan offensif dong...
Ok om, saya senang om sbg generasi muda tNI seneng baca & menulis semoga jadi Pa yg patut dibanggakan.. amin3x
Saran coba om baca sejarahnya Billy Mitchel deh... dia itu tentara Angkatan Darat yg punya pikiran maju melebihi jamannya saat itu

Indonesiajayabersatu mengatakan...

sekarang ada Universitas Pertahanan, bidang studi Sistem Perang Semesta terbuka untuk TNI (AD, AL, dan AU) dan PNS.

Anonim mengatakan...

metode doktrinasi yang tidak mendidik, coba ente bayangkan mau jadi apa negara ini, kalo hidungnya dicocok kaya kerbau... malu atuh, udah kagak jaman lagi seperti orba. profesional aja jagalah pertahanan bukan ikut ngerecokin keamanan.

Anonim mengatakan...

Emang negara ini sudah aman kah??????? Makanya TNI perlu ikut merecoki masalah keamanan.... National Security itu bukan sekedar urusan POLRI tapi semua komponen utama bangsa termasuk TNI

Poskan Komentar